Di sebuah kampung kecil hiduplah sepasang suami istri. Keluarga ini bahagia, meski hidup hanya dengan mengandalkan pada hasil hutan yang ada di sekitar rumah mereka. Namun mereka merasa keluarga mereka belumlah lengkap tanpa hadirnya si buah hati. Mereka pun berencana ingin mempunyai anak dari hasil perkawinan mereka yang sudah mereka jalani setahun. Sembilan bulan pun berlalu, Kira-kira setelah sembahyang subuh, si isteri rupanya mau melahirkan. Istrinya merintih kesakitan, si suami pun panik karena tidak tahu dan tiak bisa berbuat apa-apa. Sang suami meminta bantuan pada tetangga-tetangga di sekitar rumahnya. Di kampung tempat mereka tinggal ternyata tidak seorang pun yang ahli untuk membantu persalinan istrinya. Bidan kampung yang dulunya sering membantu warga sekitar untuk melahirkan kini sudah sangat terlalu tua, sudah sakit-sakitan sehingga tidak kuat lagi untuk membantu pasien yang mau melahirkan. Dan tidak ada yang menggantikan keahliannya.
Tidak banyak pikir lagi sang suami pun membawanya ke kampung sebelah setelah diberi tahu oleh salah seorang tetangganya bahwa di kampung sebelah ada seorang bidan kampung yang masih aktif dalam pekerjaannya untuk membantu persalinan.
Dengan menempuh 3 jam perjalanan menggunakan pedati, akhirnya suami isrti dan salah seorang tetangganya berangkat kekampung sebelah untuk mengantar isrtinya melahirkan. Dua jam perjalan sudah mereka tempuh, tanpa dikira dan tanpa diduga kuda penarik pedati yang mereka tumpangi ternyata sakit, kuda itu pun lumpuh dan terbaring ditengah jalan. Si istri pun terus merintih kesakitan dan sangat membutuhkan bantuan, tapi tak seorang pun yang lewat jalan di tengah hutan itu. Tak kuasa menahan rasa sakitnya akhirnya si istri pun pingsan dan tak lama kemudian denyut jantung si istri tersayang sudah tak berdetak lagi. Sang suami membawanya pulang dengan menggendong si istri di pundaknya.
Cerita ini ku baca pada sebuah majalah anak-anak yang kubeli untuk keponakan ku yang masih sekolah dasar. Aku berharap itu hanya ada dalam dongeng yang ku baca tadi. Seorang ibu hamil mau melahirkan namun tidak sempat untuk mendapatkan pertolongan.
Hari pun mulai gelap, seluruh tulisan yang ada di majalah itu sudah tidak bisa kubaca lagi. Karena tak ada penerangan, majalah itu pun ku letakkan dalam tas.
Di dalam taksi itu aku mencoba memandang kedepan karena ternyata taksi yang ku tumpangi berhenti dan banyak lagi iring-iringan mobil di depan dan di belakang ku juga ikut berhenti. Macet minta ampun akibat tumpukan batu bara di pinggir jalan dari sebuah truk yang sudah tidak bergerak lagi, mungkin karena kerusakan mobil itu sehingga muatan batu bara dalam baknya harus dikeluarkan.
Sekarang, adakah upaya pemerintah untuk membantu ibu hamil yang mau melahirkan yang harus dirujuk ke rumah sakit yang memiliki lebih banyak tenaga medis yang ahli untuk mendapatkan pertolongan.
Saya melihat ada sebuah mobil ambulan berlawanan arah dengan taksi yang saya tumpangi. Ambulan itu menuju Banjarmasin, kemungkinan besar berasal dari Hulu Sungai. Ketika itu jam menunjukkan pukul 7 malam. Ku tanya pada penumpang yang duduk di sebelah ku, “kita ini ada di daerah mana sekarang??”. “daerah Sungkai” jawabnya.
Sempat terpikirkan oleh ku, bagaimana keadaan pasien yang ada di dalam ambulan itu?? Bagaimana kalau gawat?? Pastinya keluarga pasien sangat resah dengan keadaan yang seperti itu. Padahal keadaan lalu lintas saat itu sangat macet, dan ambulan itu pun juga terjebak dalam sebuah kemacetan itu.
Ambulan itu tentu ingin cepat sampai di rumah sakit rujukan untuk mengantar pasien yang gawat. Bahkan aku sempat membayangkan kalau ada seorang pasien ibu-ibu hamil yang mau melahirkan yang harus dibawa ke rumah sakit rujukan. Mungkin kalau dengan keadaan seperti ini bisa terjadi pasien melahirkan dalam mobil ambulan. Iya kalau selamat, kalau memang sangat memerlukan bantuan gimana, kalau pendarahan gimana, kalau harus dioprasi gimana, bisa meninggal di ambulan tu pasien.
Sering terjadi kemacetan seperti ini. Akibat banyaknya truk-truk batu bara yang melewati jalan ini. Bagaimana usaha pemerintah mengatasi hal ini. Apakah pemerintah, terutama pemerintah daerah tidak prihatin dengan hal yang seperti ini.


0 komentar:
Posting Komentar