Test Stroke


Jumat, 28 November 2008

Alam Dayak Meratus

Loksado adalah salah satu kecamatan dari 10 kecamatan yang ada di Kabupaten Hulu Sungai Selatan, Kecamatan Loksado memiliki ciri demografi yang khas, yang memiliki luas wilayah 228 km2 terbagi 13 Desa dengan jumlah penduduk sebanyak 7.402 jiwa pada tahun 1999. Desa Loksado adalah sebagai pusat pemerintahannya yang berjarak ± 40 km dari kota Kandangan atau ± 174 km dari kota Banjarmasin.
Untuk mencapai Kecamatan Loksado, fasilitas transportasi umum relatif mudah didapatkan. Dari Banjarmasin ke Kandangan Kota ditempuh dengan perjalanan melewati jalan provinsi. Dari ibu kota kabupaten HSS inilah, perjalanan kemudian dilanjutkan menuju Loksado, dengan kendaraan roda empat menempuh waktu selama 1,5 jam. Perjalanan menuju Loksado ditempuh melewati jalan beraspal turun naik gunung, berliku tajam, sisi kiri dan kanan jalan adalah jurang, menjadi tantangan tersendiri.
Kecamatan Loksado terletak pada bagian Timur Kabupaten Hulu Sungai Selatan atau tepat pada Pegunungan Meratus sisi Baratnya tepatnya dijantung Propinsi Kalimantan Selatan, berbatasan; sebelah Utara dengan Kabupaten Hulu Sungai Tengah, sebelah Selatan dengan Kabupaten Tapin, sebelah Timur dengan Kabupaten Kotabaru dan Kabupaten Banjar, dan sebelah Barat dengan Kecamatan Padang Batung (Kabupaten HSS sendiri). Pemerintah mencanangkan status hutan kawasan Loksado sebagai hutan lindung dan hutan produksi, sementara berdasarkan sistem nilai yang dimiliki oleh masyarakat Dayak, kawasan hutan dibagi ke dalam mintakat (zona) dengan penerapan aturan yang berbeda.
Kawasan Loksado mempunyai peran yang sangat vital sebagai sistem penyangga kehidupan serta penyedia sumber yang bermanfaat, areal ini merupakan daerah tangkapan air dan merupakan daerah hulu sungai Amandit yang sangat dipengaruhi oleh kondisi kawasan hulunya. Kelestarian kawasan Loksado adalah satu-satunya jaminan kelangsungan kondisi pasokan air bagi daerah aliran sungai tersebut, pengembangan wisata alam dan budaya serta pendukung pengembangan ekonomi untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat, dengan potensi sumber daya hutannya.

Masyarakat Dayak Loksado memiliki sistem pengetahuan tentang pengelolaan sumber daya hutan dan kebun dengan membuat klafisikasi hutan berdasarkan pemanfaatan dan perlindungan bagi kehidupan sehari-hari dan untuk generasi mendatang (anak cucu). Untuk mengelola hutan Masyarakat membagi ke dalam 4 klasifikasi, seperti: Balukar Anum, Jurungan, Hutan Keramat dan Kayuan.
Dari kekayaan alam gunung meratus inilah kehidupan ekonomi masyarakatnya dipompa. Hasil hutannya yang berupa bambu misalnya, menjadikan tanaman ini sebagai salah satu komoditas utama warga. Tak aneh kalau ratusan bahkan ribuan bambu yang ada di Banjarmasin dan kota-kota besar lainnya di Kalimantan Selatan, sebagian besar berasal dari kecamatan ini. Karena tumbuhan bambu sangat cocok tumbuh di daerah ini dengan didukung oleh tanah yang subur.
Harga bambu berkisar antara Rp 1.500 sampai Rp 3.000 per bilah bambu. Sebelum menjualnya ke Kandangan, bilah bambu dirangkai menjadi lanting (rakit), dan dilarutkan melalui sungai Amandit sambil membawa hasil bumi, yang antara lain kayu manis, karet, rotan dan hasil hutan lainnya. Sekarang kegiatan malabuh lanting sudah jarang sekali dijumpai, selain karena teknologi yang serba maju mereka juga memanfaatkan waktu untuk hal-hal lain. Bilah-bilah bambu diangkut dengan menggunakan mobil yang mampu menghemat waktu dan kapasitasnya pun lebih besar.
Saat musim hujan dengan air sungai cukup dalam, orang bisa memanfaatkannya dengan berwisata bamboo rafting. Dengan mengeluarkan uang sekitar sebesar Rp 100.000, dari empat sampai lima orang sudah bisa mendapatkan satu lanting kemudian mengarungi sungai Amandit didampingi oleh seorang joki dari warga setempat.
Masyarakatnya tersebar pada beberapa bukit, lereng gunung, hutan, serta di sekitar bantaran sungai Amandit, dengan jumlah kepadatan 21 jiwa per satu kilometer persegi. Karena masyarakatnya didominasi oleh suku Dayak, otomatis banyak dari mereka yang menganut agama Kaharingan, lainnya lagi Kristen dan Islam. Mata pencaharian utama masyarakat Loksado adalah berladang. sebagian besar masyarakat menempati rumah adat yang disebut balai. Secara umum, terdapat 300 balai adat Dayak yang tersebar di Kalimantan selatan. Dan sebagian lainnya telah menempati rumah di pemukiman.
Sumber pendapatan masyarakat Loksado lainnya adalah memanfaatkan hasil hutan non kayu (Non Timber Forest Product) seperti walatung / manau, rotan / paikat, damar, madu dan lain-lain. Untuk memanfaatkan waktu luang di malam hari, biasanya kaum wanita atau ibu-ibu serta kaum pria yang sudah lanjut usia mengisinya dengan membuat berbagai macam anyaman atau kerajinan dari bambu, bentuk kerajinan ini berupa tikar, lanjung, bakul, butah, tengkiring dan lain-lain. Hasilnya sebagian untuk keperluan sendiri dan sebagian lagi akan dijual apabila ada turis atau pengunjung dari luar yang datang ketempat mereka dan ingin membeli kerajinan tersebut.

0 komentar:

Template by : kendhin x-template.blogspot.com