Dalam tarikh ke Sepuluh, dibawah naungan bulan Agustus, di balik selubung tahun Duaribu Delapan.
Borax bersama keluarga kecil yang tinggal di
tak lupa mengucap Bismillah Hirahmanirrahim lalu ku langkahkan kaki untuk menuruni anak tangga di kost yang kurang lebih satu setengah tahun ini ku huni bersama teman-teman ku.
Dengan memakai jasa angkutan kelotok yang kami carter Rp. 75.000, kami memulai perjalan ini dari belakang Mesjid Sungai Lulut (seberang pasar muara sei. Lulut) Kecamatan Sungai Tabuk. Perjalanan yang akan kami tempuh memakan waktu Kurang lebih satu jam.
Perjalanan yang lumayan menyita waktu, namun dalam perjalanan aku terkagum2 dengan pesona alam menyambut pagi di bantaran sungai Martapura ini. Ku tatap langit jingga yang masih kelam lalu aku tersadar bahwa betapa indahnya alam yang di ciptakan Tuhan ku ini, dan rasa Syukur yang tergelitik di dalam hati kuucapkan karena aku masih bisa menikmati perjalanan ini bersama sanak famili.
Aktivitas pagi dari warga yang hidup dan mengadu nasibnya di bantaran sungai Martapura ini tentunya bervariasi, mulai dari yang langsung bekerja misalnya seperti nahkoda kelotok yang kami tumpangi ini sampai dengan warga yang pagi2 memarkir senyumnya di jamban.
Tertegun melihat wanita manis berkulit putih mandi memakai tapih (sarung) se-dada itulah yang di tatap Mat Doank saat keluar dari dalam kelotok untuk menjepretkan kamera yang dibawanya. Pastinya bukan wanita tadi yang jadi objeknya melainkan langit yang begitu indahnya menyelimuti pagi.
Ditemani sembilan sepupu2 ku yang turut memeriahkan yaitu Mat Doank, Dani, Ridha, Najib, Rasyad, Rusda, Dhiya, Nuril dan juga Rahmah. Serta empat orang mamarina yang turut berpartisipasi yang antara lain Acil Hujai, Paman Elly, Paman Budi, Acil Liena, kami berfoto bareng di atas dan di dalam kelotok. Bermacam
Malangnya nasib Rasyad yang takut dengan dalamnya air dan tidak menikmati perjalanan ini tidak banyak menunjukkan aksi panggungnya ditengah-tengah asyiknya kami berfoto bareng. Padahal bocah tampan yang mengenyam pendidikan di kelas satu sekolah dasar ini tergolong periang dan lincah. Hanya senyum yang bercampur nervous yang keluar dari wajah Achad, begitu kami sering menyebutnya.
Saking asyiknya kami menghabiskan bateray dan beberapa MB memori dari kamera digital dan handycam yang kami bawa ini sampai-sampai kami lupa memakan makanan yang telah dipersipkan dan dibawa oleh Acil Liena. Beliau selain lihai ngajar mahasiswanya di Poliban ternyata juga jago masak. Lapat (buras) dan sambal yang sudah dipersipkan sejak malam harinya hampir terabaikan. Untungnya cacing dalam perut Rahmah sudah mulai misscall2 bersegeralah sepupuku yang satu ini mengambil lapat dalam kantong kresek dan menuang secangkir teh hangat dari dalam termos. “WOUY…. Makanan sbarataan”, Perhatian semua peserta tamasya air ini terusik dengan nyaringnya suara yang dilontarkan Rahmah untuk melawan kerasnya bunyi dari knalpot kelotok. Tak banyak pikir aku pun akhirnya melampiaskan laparnya perutku dengan menikmati lapat dengan pedasnya cambukan sambal terhadap lidahku.
Jauh sudah perahu mesin yang aku dan keluarga ku tumpangi menyusuri sungai. PUSKESMAS DESA LOK BAINTAN itulah tulisan pertama yang kubaca saat armada kami memasuki kawasan pasar terapung, tak terasa perjalan kami sudah sampai di tempat tujuan. Dengan banyaknya perahu manual dari para pedagang yang ada disitu perahu mesin kami mendekati ramainya suasana transaksi perdagangan dari para pedagang dan pembelinya. Limau (jeruk), mangga, jambu, sawo serta sayur mayur segala rupa yang dijajakan oleh pedagang yang mengayuh perahunya. Tak ketinggalan pedagang ikan dan beras juga bergelut ditengah-tengah pasar yang cukup ramai itu. Terlepas darimana asalnya jajaan mereka, paman Budi pun mencoba untuk membeli sawo.
Ternyata pedagang yang menjual terang bulan dan wadai pukis ada juga dipagi yang cerah itu untuk turut serta mengais rezeki.
Kamera di tangan Dani masih mengeluarkan kilatnya, bahkan ketika acil Hujai sedang melakukan tawar menawar harga sekeranjang limau yang tersusun rapi di atas perahu pedagang Dani pun masih tak henti mendokumentasikan acara wisata keluarga ini.
Tak kuat lagi menahan rasa inginnya buang air kecil, Ridha pun meminta supir untuk menyandarkan kelotoknya di tempat yang memungkinkannya untuk membuang sedikit kelebihan cairan di dalam tubuhnya. Perasaan lega terlihat sesaat setelah Ridha keluar dari kakus (WC) yang tidak jauh dari dermaga.
Pasar terapung ini ternyata tidak diam begitu saja di tengah sungai, mengingat pasangnya air maka pedagang dan perahunya dengan sendirinya mengikuti arus sungai yang bergerak perlahan-lahan dan tak terasa hampir sejauh setengah kilometer pasar terapung berpindah dari tempat semula ke arah hulunya.
Tak hanya para wisatawan lokal yang berkunjung ke tempat wisata sungai yang unik dan terdapat di kawasan Kalimantan Selatan ini. Wisatawan asing yang mungkin datang dari Asia Timur, entah dari negri asal hewan panda atau apalah yang jelas turis ini memiliki ciri-ciri mata yang sipit, dengan bahasanya yang tak ku mengerti dan tentunya sekelompok orang2 kulit putih yang secara fisik berbeda dengan warga pribumi itu membawa seorang guide untuk memudahkan perjalanan mereka.
Jam tangan paman Elly menunjukkan pukul setengan delapan lebih sedikit, he…he…
Suasana pasar terapung desa Lok Baintan ini masih ramai, namun kami tak bisa lama-lama derdiam diri disini. Karena masih banyak acara yang aku dan keluarga lakukan.
Terima kasih cinta untuk segalanya……(dst…) Begitulah sepenggal lagu yang terdengar dari sebuah handphone milik Nuril, ternyata ibunya yang sudah dari pagi memulai perjalanan dari Kandangan bersama dengan seorang leleki yang sudah mendampingi hidupnya sekitar 25 tahun menelpon Nuril dan sudah tiba di Banjarmasin.
Acara berikutnya adalah penyambutan ibu beserta bapak bendahara balai seperti itu julukan untuk seorang ibu yang dalam kegiatan-kegiatan di balai sering memanajemen penggunaan uang.
Balai dalam istilah kami yaitu rumah nini di hulu sungai, karena banyaknya kerabat yang sering kumpul disana maka dari itulah kami menyebutnya balai.
Suguhan nasi, kue roti pisang disertai manisnya teh dipersembahkan oleh acil Hujai untuk menjamu tamu yang baru datang ke rumahnya.
Cukup mengasyikan perjalanan ini, waktunya untuk istirahat sambil menikmati manisnya buah limau yang kami beli di pasar terapung tadi.



1 komentar:
Tamasya yang menyenangkan :mrgreen:
Posting Komentar